Mereka Terjepit Diantara Kebutuhan Hidup dan Mempertahankan Nilai Ekonomis UkiranUkiran mereka sering dipakai menghias rumah – rumah mewah di seantero dunia, baik untuk hiasan dinding atau sebagai tiang – tiang taman dan pendopo, tapi rumah dan tempat tinggal para pengukir Asmat hanya berupa tiang – tiang bulat dengan dinding dan atap dari daun sagu, tidak ada keindahan terukir disitu, justru penderitaan dan kesusahan hidup yang terukir nyata di setiap sudut tempat tinggal mereka.
Oleh : Walhamri Wahid
Tampak keluarga pengukir dengan anak – anak mereka yang telanjang dengan perut membuncit dan istri – istri mereka yang mendapat beban hidup berlebih, dan seorang perempuan tua yang duduk di depan rumah asli mereka yang hanya berdinding dan beratap nipah.Dari segi fisik bangunan, rumah Martinus masih lebih baik dibanding tetangga depan belakangnya yang masih berdinding daun sagu, karena rumah Martinus sudah berdinding papan yang menurut pengakuannya itu adalah rumah pemberian Pemerintah.
Namun bila melongok ke dalam lewat pintu utamanya sampai ke pintu belakang, terlihat ruangan yang kosong tanpa perabotan sama sekali tidak beda jauh dengan rumah – rumah lainnya, yang saya lihat di bagian ruang tamu hanyalah dua lembar tapen tikar dari daun pandan yang diatasnya tergolek anak satu – satunya yang di beri nama Martinus juga, ingus meleleh di atas belahan bibirnya, tak ada sehelai benangpun membalut tubuhnya yang mungil dan kurus, ditambah perut buncitnya semakin menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi si anak. Gizi buruk !.
Di sebuah sudut ruangan teronggok pakaian – pakaian entah bersih atau kotor dekat sebuah kelambu, karena rasanya sulit untuk membedakan mana pakaian kotor atau bersih bila melihat pakaian yang mereka kenakan sehari – hari, kumal dan sudah tidak layak pakai.
“inilah kehidupan seorang pemahat ulung dari Asmat yang karyanya dikagumi orang seantero dunia!”, ujar saya membatin dan merasa trenyuh melihat pemandangan yang terpapar di muka saya, pikiran saya jauh melanglang sampai ke Pulau Bali, dimana kehidupan para pengukirnya begitu sejahtera dan terangkat derajatnya. Mengapa di Asmat tidak bisa merasakan seperti itu ?
Martinus mengaku makanan sehari – harinya adalah sagu, yang biasa mereka buat seperti bola – bola kecil lalu dibakar, pola hidupnya masih meramu, yakni saat makanan habis ia akan menyambangi dusunnya yang jaraknya setengah hari perjalanan menggunakan perahu, lalu bersama istri dan anaknya ia akan tinggal di dusun menokok sagu untuk persediaan paling tidak seminggu.
“kalau dusun jauh biasa paling cepat kami 2 atau 3 hari baru kami pulang, tapi biasa sampai sebulan juga, selain sagu, ulat sagu, kami juga biasa berburu mengumpulkan hewan buruan lain, tapi sekarang saya pu` dusun dekat, jadi setiap hari bisa bolak – balik pakai perahu sekitar 3 – 4 jam”, katanya.
Pada saat mencari persediaan makanan itulah, ia terkadang sambil mencari bahan berupa kayu besi dan jenis kayu lainnya yang bisa ia buat ukiran saat pulang ke kampung. Dimana setiap warga memiliki dusun sendiri – sendiri dan biasanya jauh dari perkampungan, dan selama menyambangi dusun itulah mereka bermukim di dalam bevak – bevak darurat yang banyak tersebar di sepanjang Sungai Pomats saat kita menelusuri sungai itu.
Dengan maraknya pembangunan di Asmat, maka kebutuhan akan kayu besi baik untuk tiang jembatan maupun untuk perumahan semakin meningkat, oleh sebab itu masing – masing akan menjaga dusun mereka sebagai “gudang” makanan dan kayu besi mereka.
“kalau musim proyek, harga tiang kayu besi bisa sampai Rp 75.000 / batang sepanjang 3 - 4 meter, tapi kalau lagi tidak musim proyek bisa turun sampai Rp 25.000 / batang”,tambahnya.
Martinus mengaku sudah mulai belajar mengukir sejak kecil, diajarkan oleh tete`-nya bernama Tete` Asimey, dan sejak usia 25 tahun ia sudah mahir mengukir berbagai macam bentuk dan ragam.
“1 bulan saya biasa bikin 10 – 15 panel kayu, uangnya habis untuk beli rokok dan makan saja”, katanya.
Namun baginya mengukir saat ini tidak lebih dari pengisi waktu senggang, dan semua hasil karyanya biasa ia jual ke “Pos” di Erma atau kalau bertepatan ke Agats ia bawa serta untuk ditawar – tawarkan ke rumah penduduk dan pedagang, tapi biasa juga ukiran – ukiran tersebut di simpan saja di rumahnya sampai ada orang dari luar yang menyambangi kampungnya barulah ia menawarkan secara langsung.
Mereka bukannya tidak mengetahui bahwa karya mereka di luar sana dihargai dengan harga yang mahal, mereka juga sering mematok harga mahal tatkala ada orang yang berkunjung ke kampungnya, namun mereka akan terdesak oleh kebutuhan saat pembeli melakukan penawaran sampai harga yang tidak masuk akal karena saking murahnya.
Bayangkan saja panel yang awalnya di tawarkan oleh Martinus seharga Rp. 200.000 / buah, akhirnya rela di lepas kepada pembeli hanya dengan harga Rp. 100.000 untuk 3 buah panel. Itu semua terjadi karena terdesak oleh kebutuhan.
“simpan lama – lama di rumah kadang anak – anak pake` main – main, karena tidak ada uang, biar sudah mereka beli murah asal ada dapat uang”, jawab Martinus polos.
Ketidakberdayaan dalam bertransaksi yang didesak oleh kebutuhan saat berhadapan dengan para pedagang benda seni yang tidak punya hati, menjadikan para pengukir Asmat tidak akan pernah merasakan indahnya kehidupan ini, meski seluruh dunia mengakui ukiran Asmat tiada duanya di dunia ini.
Martinus tidak sendiri, masih banyak Martinus – Martinus lainnya yang bermukim di seantero rawa – rawa Asmat, mereka yang awalnya mengukir sebagai ritual dalam sistem sosial mereka, akhirnya harus terjerumus dalam rimba bisnis seni yang menggurita, namun sekali lagi, mereka bukanlah aktornya, mereka tidak lebih dari orang di belakang layar yang menonton orang lain menikmati hasil kerja keras mereka diatas kerasnya alam Asmat.
Sepanjang perjalanan saya kembali ke Agats diatas speed boat pikiran saya terus berkecamuk, andai saja saya memiliki sejumlah uang sebesar Rp 50 juta saja, saya yakin sudah dapat mengumpulkan hasil karya para pengukir dan membayar dengan harga yang pantas, lalu karya – karya itu akan saya jual secara online lewat internet, maupun membuka gallery bekerja sama dengan beberapa hotel yang ada di Kota Jayapura atau membangun kerja sama dengan toko – toko benda seni yang ada di luar Papua.
Keuntungannya akan saya belikan pakaian layak pakai, makanan tambahan dan susu buat anak – anak Asmat yang terlihat mengenaskan, dan dapat saya distribusikan kepada anak – anak para pengukir itu, harus ada sebuah Yayasan yang menaungi cita – cita saya itu.
Sehingga suatu saat tidak akan lagi saya temukan anak – anak Asmat yang terlihat mengenaskan tanpa pakaian, ingus meleleh, dan perut membuncit, tidak ada lagi perempuan – perempuan Asmat yang kurus ceking, yang terlihat menderita di dera penderitaan hidup, dan orang Asmat bisa menikmati betapa indahnya ukiran mereka karena anak – anak mereka bisa bersekolah dan memperoleh gizi yang cukup***
Rabu, 24 November 2010 16:00