You have made $30

Hi there,
My name is Michael,

How would you like to make $5 - $25 
every hour - starting minutes from NOW ?

If you are ready to finally start making
money online this is the right System for you.

I have developed the "MinuteProfits" - System 
that allows you to stark making money on the 
Internet 15 minutes from now - without any 
investment or advertising!

Click here to visit our website

 

 

 

 

 

Click here to unsubscribe

divert 1000s of fresh new visitors daily to Your web site

Hi there,
My name is Michael

What if you could drive 1000s of customers to your 

website from the major search-engines that are 

exclusively looking for your product/offer for free ?

 

What about an instant number one ranking for your keywords, for free ?!

I have developed a program that will automatically do this for you 


Click here to visit our website

 

 

 

 

 

Click here to unsubscribe

part time job

Hi there,
My name is Michael

I've made it my job to help people succeed online.

I'm constantly on the lookout for the best ways 
and means to make your job simpler, and I pass 
the good stuff on to you.

I have developed the eBay Cash Machine - it allows 
everyone to make a great income on eBay 99% 
automatically. It only takes a few minutes to set 
up and once that is done you will have your own eBay 
Businesses that literally run on auto-pilot!

You just wait for the money to come in!

Click here to visit our website

 

 

 

 

 

 

Unsubscribe

How to get free quality visitors to your website

No Matter what you are selling - Hit-Booster 
will send targeted visitors to your website!

Within 15 minutes you will have your own website 
traffic generator that will bring in an ever increasing 
amount of hits to your websites! Automatically

This software is perfect for bringing real traffic to 
your site... even if... it's an affiliate link where you
have no control over the website content!

Click here to visit our website

 

 

 

 

 

 

Click here to unsubscribe

DPRD Berang, Tanah Adat Dihargai Rp 384 per Meter

Ketua DPRD: Kami Akan Segera Bentuk Tim Khusus Mengkaji Besaran “Tali Asih” yang Dibayarkan PT. TSP

Isack Yunam
Keerom–Mencuatnya nilai besaran pembayaran ganti rugi tanah Adat oleh PT Tandan Sawit Papua (TSP) kepada 8 kereth di wilayah Distrik Arso Timur, yang berdasarkan hasil penelusuran wartawan koran ini jauh dari nilai yang layak, membuat Ketua DPRD Keerom, berang.  Terkait itu, DPRD Kabupaten Keerom dalam waktu dekat ini akan membentuk Tim Khusus untuk mengkaji lebih lanjut tentang nilai ganti rugi yang diberikan oleh PT TSP kepada 8 kereth di wilayah Distrik Arso Timur  tersebut. “Wah, tidak benar itu, keterlaluan, kalau memang seperti itu, kami akan kaji lebih lanjut dan segera membentuk Tim Khusus untuk mengkaji ulang, walau mereka bilang itu hasil kesepakatan dengan masyarakat tapi harus yang wajar ka!,” kata Ketua DPRD Keerom Isack Yunam kepada Bintang Papua via telepon Selasa (29/3) kemarin yang mangku tengah beristirahat di rumah karena masih dalam keadaan sakit.  Menurutnya lagi, sepengetahuannya secara pribadi maupun institusi proses dan besaran ganti rugi atas kesepakatan bersama antara masyarakat dan perusahaan, namun dia tidak mengetahui secara rinci berapa besaran ganti rugi yang diterima oleh masyarakat.

“Setahu saya itu sudah kesepakatan antara masyarakat dan perusahaan, posisi kita nantinya memastikan dan mengawasi masyarakat memiliki nilai tawar yang sama dengan perusahaan dalam menentukan nilai kontrak atau sewa tanah selama 35 tahun ke depan, karena itu tanah produktif,” katanya bernada berang.

Sebagaimana temuan harian Bintang Papua saat proses pembayaran ganti rugi hak ulayat 8 kereth di Distrik Arso Timur Jumat (25/3) lalu, dimana untuk total 18.337 hektar hak ulayat yang dilepas oleh masyarakat adat 8 kereth, kompensasi atau ganti rugi yang diberikan kepada masyarakat adat hanya sebesar Rp. 7 Milyard lebih sedikit, dan rencananya tanah ulayat tersebut akan di sertifikatkan dengan status Hak Guna Usaha (HGU) untuk dijaminkan ke Bank sehingga perusahaan memperoleh pembiayaan untuk kelangsungan pengembangan perkebunan kelapa sawit tersebut.

Dengan nilai kompensasi sebesar Rp. 7.040.000.000 untuk areal seluas 18.337 hektar, itu berarti per hektarnya tanah adat masyarakat yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Arso Timur dan anak cucunya hanya di hargai Rp 384 ribu, artinya per meter tanah ulayat tersebut hanya di hargai Rp 384 rupiah.

Selain itu kejanggalan lainnya yang ditemukan Bintang Papua dalam proses pembayaran ganti rugi adalah lamanya proses pembayaran yang dilakukan dalam 4 tahap (4 tahun) padahal bila merujuk pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 34 huruf a perusahaan perkebunan yang telah memiliki Izin Usaha Perkebunan (IUP) Budidaya maupun Pengolahan dan hendak mengurus Hak Guna Usaha (HGU) wajib menyelesaikan hak atas tanah kepada masyarakat selambat – lambatnya 2 (dua) tahun sejak diterbitkannya izin dimaksud, dan dalam peraturan perundang – undangan yang ada tidak dikenal istilah “tali kasih’ dan sebagainya namun yang diakui adalah ‘hak atas tanah ulayat”.(amr/don/03)

Selasa, 29 Maret 2011 16:37


Kerusuhan Yahukimo Dua Warga Kena Panah

Dari peristiwa anarkis yang berbuntut terbakarnya Kantor Bupati Yahukimo

JAYAPURA—Kantor Bupati Kabupaten Yahukimo yang berada di Dekai, pada Kamis (3/3) malam sekitar pukul 21.15 Wit ludes dilalap api. Dari insiden ini, dua orang warga yakni Okto Hilapok (pegawai Bank Papua Cabang Pembantu di Distrik Dekai) dan Ronald Matua terluka akibat terkena panah, dan sudah di rujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan, Jayapura, Jumat (4/3) siang.

Selain menghanguskan kantor Bupati, api juga melalap beberapa bangunan yang berada di dekatnya seperti kantor Bank Papua, kantor Dinas Keuangan serta salah satu rumah warga.

Kuat dugaan aksi pembakaran dilakukan oleh massa pendukung salah satu calon yang kalah dalam gugatan di Mahkamah Konstitusi terkait sengketa Pemilukada di kabupaten tersebut, dimana dalam putusan MK memenangkan pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Yahukimo, Ones Pahabol - Robby Longkutoy.

Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Polisi. Bekto Soeprapto saat dikonfirmasi Wartawan di Kantor Gubernur Papua, Jumat (4/3) lalu mengatakan, setelah menerima laporan kebakaran tersebut dirinya langsung memerintahkan empat pejabat utama Polda Papua untuk meninjau langsung lokasi pembakaran. Para perwira menengah yang diutus guna mengambil langkah penegakan hukum tersebut, adalah Kepala Biro Operasional, Kombespol Rudolf Roja, Direktur Reserse Kriminal, Kombespol Petrus Wayne, Direktur Intelijen Keamanan, Kombespol Dwi Hartono, dan Kepala Satuan Brimob, Komisaris Besar Polisi Prasetyo.

Pada kesempatan itu, Kapolda Bekto dengan tegas menyatakan akan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap pelaku pembakaran tanpa pandang bulu.”Siapa pun pelaku apa pun alasanya membakar rumah dan menyerang orang harus dihukum dan harus dikejar. Saya dapat informasi orangnya lari ke gunung harus dikejar sampai dapat. Walau alasannya karena marah, karena diprovokasi, karena dipancing-pancing itu tetap tidak boleh. Itu biadab dan harus diproses,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua, Kombespol, Wachyono yang dihubungi Bintang Papua via telepon, Sabtu (5/3) malam mengatakan, sementara ini pihaknya baru melakukan pemeriksaan saksi saksi termasuk saksi korban. Dari keterangan saksi itu nantinya akan terus didalami untuk mengungkap siapa pelaku pembakaran.

Wachyono juga menyebutkan, untuk memperkuat pengamanan di wilayah tersebut pasca pembakaran, Polda Papua akan mengirim satu pleton pasukan Brimob untuk memback-up pasukan yang sudah ada disana. “Sementara situasi kota Dekai saat ini sudah mulai berangsur kondusif,” pungkasnya. (ar/aj)

Ditulis oleh redaksi binpa
Minggu, 06 Maret 2011 20:50

Situs Purbakala Tapurarang, Kokas, Fakfak

Teks oleh Fajar Mahardhika Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara berlayar menuju Provinsi Papua dari Tual, Pulau Pulau Kei, Provinsi Maluku. Di Papua, Tim Ekspedisi akan mendata delapan pulau yang ada disana. Dalam perjalanan, Tim Ekspedisi singgah di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua. Tim Ekspedisi singgah di Fakfak untuk pendataan sejarah dan budaya. Sebuah situs purbakala terdapat di Distrik Kokas. Selain itu, terdapat sebuah mesjid tua peninggalan kerajaan Ternate-Tidore di distrik ini. Situs purbakala Tapurarang menjadi tempat yang pertama didata oleh Tim Ekspedisi. Situs ini berupa lukisan di tebing bebatuan terjal. Letaknya berada di Andarmata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras. Berbagai macam objek terdapat di lukisan tersebut. Objek objek lukisan tersebut berupa telapak tangan, mata, telapak kaki, lumba lumba, cicak, tumbuhan, daun, wajah manusia, hingga bumerang. Lukisannya terlihat biasa saja, namun cukup menggambarkan manusia dan kesehariannya. Tekhnik lukisannya pun unik. Objek objek tersebut dibuat seperti disembur. Tintanya berwarna merah dan kuning. Bercak bercak cat terdapat di tepian masing masing objek. Bahan lukisan tersebut dipastikan berasal dari pewarna alami. Meskipun demikian, warnanya tetap terjaga hingga saat ini. K.W Gallis dan Josef Roder, dua orang Arkeolog Belanda pernah melakukan penelitian di Papua menyebut lukisan goa di Kokas unik. Warna dan corak lukisannya berbeda dari yang ada di Kepulauan Kei, Maluku dan Pulau Batanta, Raja Ampat. Objek lukisan yang terdapat di Situs Purbakala Tapurarang, Kokas dibuat dengan tekhnik Stilasi (Penyederhanaan bentuk). Warnanya terdiri dari merah, hitam, dan kuning. Seni cadas atau rock art ini merupakan hasil karya lukisan manusia pada jaman Megalitikum, berusia ribuan tahun yang lalu. Lukisan lukisan tersebut dibuat sebagai pengingat peristiwa atau simbol simbol kepercayaan. Lukisan binatang atau Matuto dianggap sebagai pahlawan bagi nenek moyang. Simbolilasi tersebut tak hanya ada di lukisan, hingga saat ini dalam upacara adat simbol binatang tersebut masih dibawa. Telapak tangan berarti penolak bala, pelindung dari kekuatan jahat. Menurut cerita rakyat masyarakat setempat, lukisan lukisan tersebut merupakan orang orang yang dikutuk oleh seorang setan bernama Kaborbor. Ceritanya sebuah perahu tenggelam dalam perjalanan meuju Kokas. Semuanya selamat, hanya ada satu nenek yang meninggal. Pada saat perahu tenggelam, tak ada seorang pun yang menolong nenek tersebut. Akhirnya sang nenek meninggal dan seketika berubah menjadi setan yang bernama Kaborbor. Karena sakit hati, Kaborbor mengutuk mereka yang selamat beserta benda benda yang dibawanya menjadi lukisan tebing. Di tebing tebing di sekitar Andarmata, terdapat tengkorak yang berserakan. Tengkorak tersebut merupakan tengkorak nenek moyang penduduk Kokas. Penduduk Kokas mempunyai kebiasaan menyimpan jenazah di tebing, ceruk, tanjung, dan gua ditempat yang mereka anggap sakral. Tim Ekspedisi mendata tempat tempat dimana tengkorak tersebut berada. Usai pendataan sejarah dan budaya di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara bersama Kapal Layar Motor Cinta Laut berlayar menuju Sorong, Papua Barat. Disana Tim Ekspedisi mendata delapan pulau terdepan yang tersebar hingga ke utara Papua. Source : http://www.92pulau.com/situs-purbakala-tapurarang-kokas-kabupaten-fakfak-papua/ Thursday, 06 January 2011 08:55 Written by Administrator

, , ,

Asmat, Eloknya Ukiranmu Tak Se-Elok Kehidupanmu (Bagian 2)

Mereka Terjepit Diantara Kebutuhan Hidup dan Mempertahankan Nilai Ekonomis Ukiran

Ukiran mereka sering dipakai menghias rumah – rumah mewah di seantero dunia, baik untuk hiasan dinding atau sebagai tiang – tiang taman dan pendopo, tapi rumah dan tempat tinggal para pengukir Asmat hanya berupa tiang – tiang bulat dengan dinding dan atap dari daun sagu, tidak ada keindahan terukir disitu, justru  penderitaan dan kesusahan hidup yang terukir nyata di setiap sudut tempat tinggal mereka.

Oleh : Walhamri Wahid

Tampak keluarga pengukir dengan anak – anak mereka yang telanjang dengan perut membuncit dan istri – istri mereka yang mendapat beban hidup berlebih, dan seorang perempuan tua yang duduk di depan rumah asli mereka yang hanya berdin­ding dan beratap nipah.Dari segi fisik bangunan, rumah Martinus masih lebih baik dibanding tetang­ga depan belakangnya yang masih berdinding daun sagu, karena rumah Martinus sudah berdinding papan yang menurut pengakuannya itu adalah rumah pemberian Pemerintah.

Namun bila melongok ke dalam lewat pintu utamanya sampai ke pintu belakang, terlihat ruangan yang kosong tanpa perabotan sama sekali tidak beda jauh dengan rumah – rumah lainnya, yang saya lihat di bagian ruang tamu hanyalah dua lembar tapen tikar dari daun pandan yang diatasnya tergolek anak satu – satunya yang di beri nama Martinus juga, ingus meleleh di atas belahan bibirnya, tak ada sehelai benangpun membalut tubuhnya yang mungil dan kurus, ditambah perut buncitnya semakin menunjukkan bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi si anak. Gizi buruk !.

Di sebuah sudut ruangan teronggok pakaian – pakaian entah bersih atau kotor dekat sebuah kelambu, karena rasa­nya sulit untuk membedakan mana pakaian kotor atau bersih bila melihat pakaian yang mereka kenakan sehari – hari, kumal dan sudah tidak layak pakai.

“inilah kehidupan seorang pemahat ulung dari Asmat yang karyanya dikagumi orang seantero dunia!”, ujar saya membatin dan merasa trenyuh melihat pemandangan yang terpapar di muka saya, pikiran saya jauh melanglang sampai ke Pulau Bali, dimana kehidupan para pengukirnya begitu sejahtera dan terangkat derajatnya. Mengapa di Asmat tidak bisa merasakan seperti itu ?

Martinus mengaku makanan sehari – harinya adalah sagu, yang biasa mereka buat seperti bola – bola kecil lalu dibakar, pola hidupnya masih meramu, yakni saat makanan habis ia akan menyambangi dusunnya yang jaraknya sete­ngah hari perjalanan menggunakan perahu, lalu bersama istri dan anaknya ia akan tinggal di dusun menokok sagu untuk persediaan paling tidak seminggu.

“kalau dusun jauh biasa paling cepat kami 2 atau 3 hari baru kami pulang, tapi biasa sampai sebulan juga, selain sagu, ulat sagu, kami juga biasa berburu mengumpulkan hewan buruan lain, tapi sekarang saya pu` dusun dekat, jadi setiap hari bisa bolak – balik pakai perahu sekitar 3 – 4 jam”, katanya.

Pada saat mencari persediaan makanan itulah, ia terkadang sambil mencari bahan berupa kayu besi dan jenis kayu lainnya yang bisa ia buat ukiran saat pulang ke kampung. Dimana seti­ap warga memiliki dusun sendiri – sendiri dan biasanya jauh dari perkampungan, dan selama menyambangi dusun itulah mereka bermukim di dalam bevak – bevak darurat yang banyak tersebar di sepanjang Sungai Pomats saat kita menelusuri sungai itu.

Dengan maraknya pembangunan di Asmat, maka kebutuhan akan kayu besi baik untuk tiang jembatan maupun untuk perumahan semakin meningkat, oleh sebab itu masing – masing akan menjaga dusun mereka sebagai “gudang” makanan dan kayu besi mereka.

“kalau musim proyek, harga tiang kayu besi bisa sampai Rp 75.000 / batang sepanjang 3 - 4 meter, tapi kalau lagi tidak musim proyek bisa turun sampai Rp 25.000 / batang”,tambahnya.

Martinus mengaku sudah mulai belajar mengukir sejak kecil, diajarkan oleh tete`-nya bernama Tete` Asimey, dan sejak usia 25 tahun ia sudah mahir mengukir berbagai macam bentuk dan ragam.

“1 bulan saya biasa bikin 10 – 15 panel kayu, uangnya habis untuk beli rokok dan makan saja”, katanya.

Namun baginya mengukir saat ini tidak lebih dari pengisi waktu senggang, dan semua hasil karyanya biasa ia jual ke “Pos” di Erma atau kalau bertepatan ke Agats ia bawa serta untuk ditawar – tawarkan ke rumah penduduk dan pedagang, tapi biasa juga ukiran – ukiran tersebut di simpan saja di rumahnya sampai ada orang dari luar yang menyambangi kampungnya barulah ia menawarkan secara langsung.

Mereka bukannya tidak mengetahui bahwa karya mereka di luar sana dihargai dengan harga yang mahal, mereka juga sering mematok harga mahal tatkala ada orang yang berkunjung ke kampungnya, namun mereka akan terdesak oleh kebutuhan saat pembeli melakukan penawaran sampai harga yang tidak masuk akal karena saking murahnya.

Bayangkan saja panel yang awalnya di tawarkan oleh Martinus seharga Rp. 200.000 / buah, akhirnya rela di lepas kepada pembeli hanya dengan harga Rp. 100.000 untuk 3 buah panel. Itu semua terjadi karena terdesak oleh kebutuhan.

“simpan lama – lama di rumah kadang anak – anak pake` main – main, karena tidak ada uang, biar sudah mereka beli murah asal ada dapat uang”, jawab Martinus polos.

Ketidakberdayaan dalam bertransaksi yang didesak oleh kebutuhan saat berhadapan dengan para pedagang benda seni yang tidak punya hati, menjadikan para pengukir Asmat tidak akan pernah merasakan indahnya kehidupan ini, meski seluruh dunia mengakui ukiran Asmat tiada duanya di dunia ini.

Martinus tidak sendiri, masih banyak Martinus – Martinus lainnya yang bermukim di seantero rawa – rawa Asmat, mereka yang awalnya mengukir sebagai ritual dalam sistem sosial mereka, akhirnya harus terjerumus dalam rimba bisnis seni yang menggurita, namun sekali lagi, mereka bukanlah aktornya, mereka tidak lebih dari orang di belakang layar yang menonton orang lain menikmati hasil kerja keras mereka diatas kerasnya alam Asmat.

Sepanjang perjalanan saya kembali ke Agats diatas speed boat pikiran saya terus berkecamuk, andai saja saya memiliki sejumlah uang sebesar Rp 50 juta saja, saya yakin sudah dapat mengumpulkan hasil karya para pengukir dan membayar dengan harga yang pantas, lalu karya – karya itu akan saya jual secara online lewat internet, maupun membuka gallery bekerja sama dengan beberapa hotel yang ada di Kota Jayapura atau membangun kerja sama dengan toko – toko benda seni yang ada di luar Papua.

Keuntungannya akan saya belikan pakaian layak pakai, makanan tambahan dan susu buat anak – anak Asmat yang terlihat mengenaskan, dan dapat saya distribusikan kepada anak – anak para pengukir itu, harus ada sebuah Yayasan yang menaungi cita – cita saya itu.

Sehingga suatu saat tidak akan lagi saya temukan anak – anak Asmat yang terlihat mengenaskan tanpa pakaian, ingus meleleh, dan perut membuncit, tidak ada lagi perempuan – perempuan Asmat yang kurus ceking, yang terlihat menderita di dera penderitaan hidup, dan orang Asmat bisa menikmati betapa indahnya ukiran mereka karena anak – anak mereka bisa bersekolah dan memperoleh gizi yang cukup***

Rabu, 24 November 2010 16:00

DAP Siap Fasilitasi Perdamaian Kasus Yoka

Jayapura—Forkorus Yaboisembut akan mengutus dua stafnya untuk dapat berkoordinasi kedua belah suku yang bertikai di Kampung Yoka.

“Saya telah mengutus ketua III dan sekretaris I yang masing-masing akan mengumpulkan keputusan dari suku wamena dan Sentani. Dan dari keputusan keduanya akan kita tampung dan kita kaji sebelum dibawa kepersidangan adat, sehingga di harapkan pada sidang adat nanti sudah dapat menuai hasil yang positif dan pastinya dapat melerai pertikaian kedua belah pihak,” ungkapnya.

Diakuinya, bila mendamaikan kedua suku yang bertikai itu, bukan hal yang mudah. Karena menyangkut harga diri yang telah diinjak-injak, namun DAP akan tetap berupaya melalui sidang adat untuk menyatukan dan mendamaikan keduanya hingga final.“Dalam sidang adat, kita juga akan mneghadirkan pihak kepolisian untuk dapat mengetahui upaya yang ditempuh jalur hukum untuk mendamaikan kedua belah pihak,” lanjunya.

Sebagai seorang guru, Forkorus juga menyesalkan tindakan pembuatan rington dering HP yang dinilainya sangat tidak bermoral itu.

Ia juga menduga penyusun syair lagu itu adalah orang yang pandai karena intonasi nya pun tersusun secara baik. “ Tidak ada orang tua, apalagi guru yang mendidik anak-anak untuk berprilaku tidak bermoral. Jangann sampai ada keterlibatan orang ketiga, dalam hal ini, semua akan DAP aust hingga tuntas,” tegasnya lagi.

Forkorur juga menghimbau agar kedau belah pihak sama-sama dapat menahan diri, sampai dewan adat dapat mengumpulkan data sebelum menggelar sidang adat,” Saya menghimbau secara lisan agar kedau belh pihak dapat menahan diri dan melihat duduk permasalahannya secara bijaksana, jadi saat sidang adat di gelar, tidak lagi harus ada pertikaian,” himbaunya.

Sementara itu Ketua DAP Baliem, Lemok Mabel mengatakan bila kedua suku merupakan korban dari pihak ketiga. Namun tidak dipungkirinya bila masalah pertikaian dua suku tersebut sangat berat, akrena menyangkut harga diri orang pegunungan.

Akan tetapi dirinya selaku ketua dewan adat baliem, telah bersedia bila dewan adat papua memfasilitasi pertemuan kedau belah pihak dengan membawa masalah tersebut ke dalam sidang adat terbuka. (AS/don)

Pemuda Ini Diperkosa 10 Wanita di Mendi, PNG

Peristiwa naas ini dialami oleh seorang pemuda sekolahan berusia 17 tahun.
SELASA, 23 NOVEMBER 2010, 04:01 WIB Hadi Suprapto, Denny Armandhanu

VIVAnews - Lumrahnya seorang lelaki bejat yang biasanya melakukan pemerkosaan terhadap wanita. Namun tidak demikian yang terjadi di Papua Nugini (PNG), seorang lelaki justru diperkosa secara simultan oleh beberapa wanita.

Kasus ini terjadi di provinsi Mendi, pada Jumat, 19 November 2010, namun laporan baru sampai ke media pada Senin, 22 November 2010. Menurut laporan polisi, peristiwa naas ini dialami oleh seorang pemuda sekolahan berusia 17 tahun.

Pemuda yang tidak disebutkan namanya ini dihadang di jalan oleh 10 wanita yang kesemuanya membawa pisau. Wanita-wanita tersebut kalap menyerang si pemuda yang tidak berdaya, bahkan beberapa di antara mereka menggagahinya.

“Lebih dari 10 wanita bersenjatakan pisau dapur menyerangnya dan beberapa dari mereka memperkosanya. Ini adalah masalah serius dan polisi masih berusaha mengidentifikasi 'binatang-binatang' ini,” ujar komandan polisi Teddy Tei seperti dilansir dari laman Associated Press.

Saat ini pemuda tersebut terbaring di rumah sakit menjalani perawatan. Tei mengatakan bahwa kekhawatiran utamanya adalah wanita-wanita tersebut menularkan HIV/AIDS. Penyakit yang salah satu penularannya melalui hubungan seksual ini adalah masalah besar di Papau Nugini.

“Saya selalu memperingatkan kaum wanita untuk berhati-hati pada waktu malam, tapi sekarang saya juga harus memperingatkan kaum pria,” ujarnya seraya mengatakan bahwa pihaknya masih belum mengetahui motif sebenarnya dibalik penyerangan itu.

Papua Nugini adalah negara dengan tingkat pemerkosaan yang tinggi, hal ini berdasarkan laporan dari UNICEF tahun 2008. menurut laporan tersebut, terdapat sekitar delapan persen wanita pernah diperkosa. Itu berdasarkan laporan dari polisi, yang tidak dilaporkan diduga lebih banyak lagi.